Di Mana Sakinah Berlabuh? Catatan Kecil Tentang Cinta dan Iman.
Catatan Kecil Tentang Cinta dan Iman
Banyak orang mengira rumah adalah tentang koordinat lokasi, atap yang kokoh, atau dekorasi yang estetik. Namun, bagi mereka yang sedang meniti jalan pernikahan, rumah adalah sebuah pertanyaan besar: Di mana hati saya bisa benar-benar berlabuh?
Sakinah sering kali diterjemahkan sebagai ketenangan. Namun, ia bukan jenis ketenangan yang didapat dari keheningan tanpa masalah. Sakinah adalah ketenangan di tengah badai; sebuah jangkar yang membuat kapal rumah tangga tidak terombang-ambing meski ombak ujian datang menerjang. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Rum: 21, tujuan diciptakannya pasangan adalah agar kita "li-taskunu"—merasa tenteram kepadanya. Sakinah adalah perpaduan harmonis antara dua kekuatan besar: Cinta yang membumi dan Iman yang melangit.
Cinta dalam konsep sakinah bukan hanya tentang debar jantung saat bertemu, melainkan tentang komitmen untuk menjadi tempat paling aman bagi pasangan.
Penerimaan Tanpa Syarat: Sakinah berlabuh ketika kita berhenti menuntut pasangan menjadi sempurna dan mulai merayakan ketidaksempurnaan tersebut sebagai ruang untuk saling melengkapi.
Komunikasi yang Membasuh: Kata-kata yang lembut adalah air bagi api kemarahan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa, "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan" (HR. Muslim). Dalam keluarga sakinah, kejujuran disampaikan dengan kasih sayang, bukan dengan pedang kata-kata yang melukai.
Apresiasi dalam Hal Kecil: Terkadang, sakinah hadir dalam secangkir teh hangat di sore hari, ucapan "terima kasih" setelah lelah bekerja, atau genggaman tangan saat salah satu sedang merasa rapuh.
Jika cinta adalah bunganya, maka iman adalah akarnya. Tanpa iman, cinta manusiawi kita sangatlah rapuh dan mudah layu oleh ego. Iman mengubah cara kita memandang pasangan; mereka bukan sekadar teman hidup, melainkan "pakaian" bagi jiwa kita.
"...Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah: 187)
Sebagaimana fungsi pakaian yang menutupi kulit, iman membimbing kita untuk menutupi aib pasangan dengan rapat dan melindungi mereka dari dinginnya ujian dunia. Saat suami dan istri sepakat bahwa tujuan tertinggi mereka adalah rida Sang Pencipta, maka masalah tidak lagi dilihat sebagai "siapa yang salah", tapi "apa yang Tuhan ingin kita pelajari". Iman mengubah lelah menjadi lillahi, dan mengubah amarah menjadi istighfar.
Tidak ada laut yang selalu tenang. Konflik dalam rumah tangga adalah hal yang niscaya. Namun, bagi keluarga yang memiliki sakinah, konflik bukanlah pintu keluar, melainkan tangga menuju pendewasaan.
Sakinah berlabuh pada hati yang berani berkata, "Aku memaafkanmu," dan hati yang cukup rendah hati untuk berbisik, "Maafkan aku." Memaafkan adalah cara kita melepaskan jangkar dendam agar kapal keluarga kita bisa kembali berlayar dengan ringan. Di titik inilah doa menjadi penguat, memohon agar keluarga kita menjadi Qurrata A’yun—penyejuk mata yang menenangkan jiwa saat dipandang (QS. Al-Furqan: 74).
Pada akhirnya, sakinah bukanlah sebuah destinasi yang sekali sampai lalu selesai. Ia adalah perjalanan harian. Ia adalah keputusan untuk terus memilih pasangan kita, setiap hari, dalam keadaan apa pun.
Sakinah berlabuh di mana cinta dirawat dengan kelembutan manusiawi dan iman dijaga dengan ketaatan surgawi. Itulah surga kecil sebelum surga yang sesungguhnya. Mari kita bertanya pada diri sendiri hari ini: Sudahkah kita menjadi pelabuhan yang tenang bagi mereka yang kita cintai?